Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Destiny #Part 3

Cerita sebelumnya....
Rencana berlibur Fira di Korea gagal tapi dia malah menjadi artis pendatang baru tanpa adanya training seperti artis Korea lainnya. Karena tuntutan pekerjaan, dia bahkan jadi sering bersama dengan Jin Young, idolanya. Tapi ternyata Jin Young tidak menyukai hal-hal berbau takdir.

Bagaimanakah takdir akan membawa cinta Fira? Pada siapa hatinya akan berlabuh? Siapa sebenarnya sosok Jong Woon bagi Fira? Ikuti kisah selengkapnya di part terakhir Destiny ini ... :D
Jangan Lupa Commet ya :D



Author POV

Beberapa hari ini Fira terus mendapat job sebagai model majalah dan model iklan dan terus di pasangkan dengan Jin Young. Selama bersama, Fira berusaha untuk tidak menyinggung soal takdir, karena dia tidak ingin melihat wajah sedih tersirat dari wajah idolanya itu. Dari situ Fira mulai dekat dengan Jin Young. Dan perlahan, sebuah perasaan aneh mulai di rasakan Jin Young saat bersama Fira. Sebuah perasaan yang sama seperti yang dia berikan pada Yu Mi, tunangannya yang sudah meninggal.
Jong Woon berjalan menghampiri Fira yang sedang mengobrol dengan Jin Young. “ayo, kita makan siang” ajak Jong Woon.
“mian sajangnim, tapi dia akan makan siang denganku”
 ‘bocah ini sepertinya benar-benar ingin merebutnya dariku. Cih. Baiklah, kali ini aku mengalah’ batin Jong Woon. “ya sudah kalau kau mau makan siang dengan Jin Young. Aku akan kembali saja. Masih ada yang harus ku kerjakan” ucap Jong Woon pada Fira lalu menoleh pada Jin Young dengan mata disipitkan. Jin Young tersenyum puas.
“tapi kalau paman mau ikut boleh kok” sela Fira yang tidak mengerti situasi. Jelas-jelas Jong Woon dan Jin Young seperti memasang aura permusuhan.
“tidak usah. Aku tidak mau mengganggu. Kalian pergilah”

**

“humh, paman kelihatannya sibuk sekali ya. Kasihan dia. Sejak merangkap jadi manajerku, dia jadi tambah sibuk”
Jin Young mengacak rambut Fira gemas. “kau ini, kau dulu semangat sekali mengatakan akulah takdirmu, tapi kenapa yang ada di pikiranmu malah namja lain? Apa kau mencintai pamanmu itu?”
“eh~~? Tidak. Bukan begitu. Aku... mana mungkin aku mencintainya. Dia kan pamanku” sanggah Fira yang tanpa sadar sedikit berteriak. “lagipula kenapa kau membahas soal takdir? Bukannya kau membenci takdir gara-gara...”
“dulu aku memang membenci takdir, tapi melihatmu yang begitu menganggap indah takdir, aku mulai menyukai takdir. Dan aku sadar, tidak semua takdir itu menyedihkan. Karena aku bahagia menjalani takdir dimana aku bisa bersamamu seperti sekarang”
Fira terdiam sejenak. Berusaha mencerna kata-kata Jin Young barusan. ‘apa itu tadi artinya pernyataan cinta?’ batinnya.
“Fira-ya, kalau dia, maksudku, pamanmu itu. Kalau dia bukan pamanmu, apa kau akan mencintainya?”

**

Fira POV

Aku tidak mengerti apa maksud Jin Young tadi siang. Tiba-tiba saja menanyakan hal seperti itu. Paman Jong Woon adalah pamanku. Jadi tidak mungkin aku mencintainya.
Sementara aku memikirkan kejadian tadi siang, aku merasa aneh. Jam segini biasanya paman akan masuk ke kamarku dan memberiku kecupan di kening, tapi kenapa malam ini tidak? Bukankah dia sudah pulang dari tadi?
Karena penasaran, aku mencoba melihatnya di kamar. Ku lihat dia sedang tertidur di atas meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala. Aku berjalan mendekatinya dan mematikan laptop setelah memastikan dokumen paman tersimpan.
Ku tarik sebuah kursi kecil di dekatku dan ku letakkan di dekat paman. Kupandangi wajah paman yang tertidur pulas. “paman, tidak mungkin kau bukan pamanku kan?” ucapku lirih.
Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. “tentu saja kau pamanku ya. Bodoh sekali aku. Paman pasti lelah. Tidur yang nyenyak ya paman” lanjutku. Sebelum aku beranjak pergi, aku kembali menatap wajah paman. ‘kali ini aku yang akan memberi kecupan selamat tidur’

**

Jong Woon POV

Ada seseorang masuk ke kamarku. Aku terlalu mengantuk untuk membuka mata. Jadi kubiarkan saja. “paman, tidak mungkin kau bukan pamanku kan?” ucapnya yang ternyata adalah Fira.
Dia menghela nafas dan kembali berkata “tentu saja kau pamanku ya. Bodoh sekali aku. Paman pasti lelah. Tidur yang nyenyak ya paman” lanjutnya. Setelah itu, sebuah kecupan mendarat di keningku.
Tepat setelah kupastikan dia benar-benar keluar aku membuka mataku. “ani. Aku bukan pamanmu Fira. Kau hanya belum ingat. Kaulah yang membuatku jadi pamanmu”

**

Fira POV

Paman ada rapat lagi dengan seorang perempuan cantik. Kata paman, dia adalah salah satu musisi handal di Korea. Tapi entah kenapa kedekatan mereka membuatku tidak nyaman.
“apa kau cemburu melihat kedekatan mereka?” tanya Jin Young yang tiba-tiba saja datang dari belakang.
“apa maksudmu? Aku tidak sedang...”
“berhentilah menyangkal. Kau mencintainya bukan?”
“...”
“aku mengerti. Jadi kau benar-benar mencintai pamanmu rupanya”
Iya. kali ini aku harus mengakuinya. Aku, perasaan ini. Iya, aku mencintainya. Ah tidak. Ini tidak boleh. Aku langsung sadar dan menggelengkan kepalaku cepat.
“tidak Jin Young. Ini salah. Aku tidak boleh mencintainya. Dia pamanku. Aku harus pulang sekarang juga sebelum aku jadi gila karena masalah ini”
“mwo? Kau mau pulang? Maksudmu ke Indonesia? Lalu bagaimana dengan karirmu? Kau sekarang sedang naik daun”
“aku tidak peduli. Aku harus segera menghentikan perasaanku pada paman. Sebelum aku menjadi tidak bisa melepaskan diri dari perasaanku sendiri”

**

Hari ini aku kembali ke Indonesia. Paman mengantarku samapi ke bandara. “kau yakin mau pulang? Bukankah liburanmu masih seminggu lagi?” tanya paman.
Aku menggeleng pelan. Saat aku mengatakan mau pulang, aku memang tidak mengatakan alasanku yang sebenarnya. Aku hanya bilang merindukan ayah dan ibuku. Padahal seumur hidupku aku sama sekali tidak pernah merindukan ayah menyebalkan itu.
Terdengar suara dari intercom yang membuatku harus segera naik ke pesawat.
Aku berjalan meninggalkan paman.  Aku tidak sanggup menoleh untuk sekedar menatap wajahnya. Aku takut akan semakin sulit menghentikan perasaanku kalau menoleh. Tapi perasaan ini... aku sudah tidak bisa mengendalikannya. Sudahlah. Untuk yang terakhir kalinya saja. Aku kembali menoleh dan berlari menuju tempat paman berada.
Sekarang aku sudah berdiri tepat di depannya. “apa ada yang kau lupa?” tanyanya. Bukannya menjawab, aku malah menempelkan bibirku pada bibir paman. “maaf paman. Untuk terakhir kalinya saja. Sepulang ke Indonesia, aku akan menghentikan perasaanku ini. Sekali lagi maafkan aku karena mencintaimu sebagai laki-laki dan maafkan aku karena menciummu” ucapku cepat dan langsung berlari naik ke pesawat.

**

Aku hanya duduk memandangi pemandangan di luar dari jendela. Terlihat beberapa temanku sedang mengospek para mahasiswa baru itu. Sekarang aku adalah mahasiswa jurusan sastra Korea. Sebenarnya aku tidak mau lagi berhubungan dengan segala sesuatu tentang Korea lagi, tapi ayah memaksaku. Dasar ayah menyebalkan itu, aish!.
Tanpa terasa sudah tiga tahun aku meninggalkan Korea dan tidak lagi bertemu dengan paman. Gara-gara kejadian waktu itu, aku justru tidak bisa melupakan paman. Semua gara-gara namja nakal itu. Apa sih yang dia pikirkan sampai melakukan itu? Apa dia mau menjalin hubungan terlarang denganku? Yang benar saja. Aish!! Setiap kali mengingatnya rasanya aku kesal sendiri.

**

Flashback

Setelah mencium paman, aku berbalik dan berlari menuju pesawat. Tapi paman menangkap tanganku dari belakang dan berhasil membuatku berbalik. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajahku. “aku tidak akan membiarkanmu menghentikan perasaanmu. Jangan pernah lupakan perasaan itu dan melupakanku” ucap paman daaannn… CHUP . dia menciumku? Apa yang dia lakukan?

“dengan begini, cukup membuatmu tidak melupakanku kan?” lanjut paman dengan senyuman evil.

“sudah sana. Cepat naik. Pesawatmu sudah mau berangkat”

Flasback End

**

Jin Young POV

Ini pertama kalinya aku berkunjung ke Indonesia. Aku ke sini karena merindukan seorang yeoja yang sempat membuatku jatuh cinta lagi.
Aku berjalan menyusuri lorong gedung ini. “sst, eh, siapa dia? Wah, tampan sekali ya” bisik salah seorang yeoja pada temannya sambil memandangiku.
Aku sampai pada sebuah ruangan. Cukup sepi. Hanya ada seorang yeoja yang sedang duduk bertopang dagu dan memandang keluar jendela. aku berjalan mendekatinya. “annyeong, lama tidak ketemu” sapaku.
Yeoja itu menoleh. Dia terlihat sedikit terkejut. “annyeong. Jin Young, kenapa bisa di sini?”
“karena aku merindukanmu” jawabku asal meski memang itu yang terjadi. Aku merindukannya.

**

“Jin Young, mian ya. Apa sejak waktu itu kau kembali menyalahkan takdir?”
“eum? Ani. Meski aku tau kau mencintai sajangnim, aku tidak kembali jadi seperti dulu”
“jinjja? Syukurlah”
“kau sendiri, apa sudah bisa melupakan perasaanmu?”
Fira menggeleng pelan. “hemh, padahal aku datang karena kupikir aku sudah punya kesempatan untuk masuk ke hatimu”
Fira meninju bahuku pelan. “ani Jin Young. Kalaupun nantinya aku sudah tidak lagi mencintai paman, posisimu di hatiku tetap hanya sebagai idolaku. Tidak bisa lebih”
Kami tiba di sebuah taman bermain dekat rumah Fira. Fira terlihat tidak senang. “kita cari tempat lain saja”
“wae? Di sini saja”
Aku menyuruhnya duduk sebentar di ayunan. Aku meninggalkannya sendirian dengan alasan ada yang harus ku ambil di mobil.
Aku bersembunyi di balik pohon yang sedikit jauh dari tempat Fira berada. Ku lihat seorang namja memeluk Fira dari belakang. Namja itu adalah Kang sajangnim. Ah~, aku jadi ingat saat aku dulu pertama kali tau dia juga mencintai Fira dan ternyata bukan paman Fira. Saat itu, saat aku dan Fira syuting iklan di pulau jeju.

**

Flashback

“sajangnim, bukankah kau tidak terlihat terlalu memperhatikan Fira?”

“memangnya kenapa kalau aku memperhatikannya seperti itu?”

“kau terlihat seperti sedang memperhatikan yeoja chingumu. Kau terlihat mencintainya”

“nae. Aku memang mencintainya. Wae?”

“mwo? Dia itu keponakanmu”

“ani. Dia bukan keponakanku. Kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi”


Flashback End

**

Fira POV

Jin Young kemana ya? Aku ingin pergi dari sini. Tempat ini membuatku ingin marah. Tapi aku tidak tau kenapa aku ingin marah.
Saat aku masih menunggu Jin Young kembali, ada seseorang merangkulkan kedua tangannya di atas bahuku dari belakang. Kepalanya di sandarkan pada bahu kiriku. Aku sampai bisa merasakan hembusan nafasnya.
“paman?”
“bogoshippo Fira” ucapnya lembut dengan masih memelukku.
“…”
“apa kau ingat tempat ini?”
“...?”
“kau lupa karena kau marah padaku ya?”
“apa yang paman bicarakan? Aku…”
“tempat ini adalah tempat kenangan kita berdua waktu kecil. Sebelum aku kembali ke Korea waktu itu, kau terus merengek dan memintaku untuk jangan pergi”

**

Flashback

Jong Woon POV

“pamaann… jangan pulang. Paman di sini saja” rengek Fira sambil menangis. Aku tidak tega melihatnya. Karena itu ku ajak dia ke taman dekat rumahnya untuk menghiburnya sebentar.

Sampai di taman dia masih sesenggukan meski sudah tidak lagi mengeluarkan air mata.

Aku memetikkan bunga liar yang tumbuh di taman dan ku berikan pada Fira. “Fira, sudah, jangan menangis. Aku janji aku akan kembali” ucapku lembut sambil menghapus air matanya.

“paman, lain kali saat kau kembali kita menikah saja ya. Jadi aku bisa ikut kemanapun kau pergi seperti ibuku yang mengikuti ayah pergi” ucapnya polos.

Haha, dasar anak ini. “baiklah. Lain kali saat aku datang kita menikah ya” jawabku tidak serius untuk membuatnya senang.

“hore!! Aku akan jadi istrinya paman!!” serunya.


Flashback End

**

“kau sudah ingat?”
Dia masih terdiam. Tapi dari ekspresinya bisa kutebak kalau dia sudah ingat.
“kenapa kau melupakannya Fira?”
“aku, … aku kecewa pada paman karena tidak juga menepati janji paman. Paman juga sama sekali tidak ada kabar. Aku lupa karena aku terlalu kecewa. Mungkin. Karena waktu itu aku masih kecil”
Aku semakin mengencangkan pelukanku. “sekarang, bolehkah aku tidak menjadi pamanmu lagi dan menepati janjiku menjadi suamimu?”
“eum,… tentu” jawabnya pelan. Rona merah menyelimuti wajah cantiknya itu.
Dia membalas pelukanku dengan memeluk lenganku. Aku pun semakin memeluknya erat. “sarange Chagi”
“nado… ahjussi”
“kau masih memanggilku paman? Aish… terserah kau sajalah” protesku, tapi Fira hanya tertawa kecil mendengarnya.

**

Flashback
 Author POV

“Fira, kenalkan, ini paman Jong Shu, ini tante Cahya, dan yang ini Jong Woon” ucap ayah memperkenalkan keluarga temannya ini pada Fira.

Mata Fira langsung membulat dan membentuk puppy eyes. Fira langsung nemplok ke Jong Woon dan memeluk lengannya. “pamanku yang ini keren!!” ucapnya polos.

“bukan Fira, pamanmu yang ini. Dia itu anaknya” jelas ibu.

“umh! Yang itu udah tua !! nggak mau. Maunya yang ini aja”

“eeh?? Tapi aku bukan pamanmu” protes Jong Woon.

“Chukkae ya Jong Woon. Baru datang sudah dapat keponakan” goda ibunya Jong Woon.

“umma, jangan ikut-ikutan!!”

Semua orang malah tertawa. Sedangkan  Jong Woon cemberut dan Fira masih memandangi Jong Woon dengan polosnya.

Flashback End

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar