Cerita sebelumnya....
Rencana berlibur Fira di Korea gagal tapi dia malah menjadi artis pendatang baru tanpa adanya training seperti artis Korea lainnya. Karena tuntutan pekerjaan, dia bahkan jadi sering bersama dengan Jin Young, idolanya. Tapi ternyata Jin Young tidak menyukai hal-hal berbau takdir.
Bagaimanakah takdir akan membawa cinta Fira? Pada siapa hatinya akan berlabuh? Siapa sebenarnya sosok Jong Woon bagi Fira? Ikuti kisah selengkapnya di part terakhir Destiny ini ... :DJangan Lupa Commet ya :D
Author POV
Beberapa hari ini Fira terus mendapat job sebagai model
majalah dan model iklan dan terus di pasangkan dengan Jin Young. Selama
bersama, Fira berusaha untuk tidak menyinggung soal takdir, karena dia tidak
ingin melihat wajah sedih tersirat dari wajah idolanya itu. Dari situ Fira
mulai dekat dengan Jin Young. Dan perlahan, sebuah perasaan aneh mulai di
rasakan Jin Young saat bersama Fira. Sebuah perasaan yang sama seperti yang dia
berikan pada Yu Mi, tunangannya yang sudah meninggal.
Jong Woon berjalan menghampiri Fira yang sedang mengobrol
dengan Jin Young. “ayo, kita makan siang” ajak Jong Woon.
“mian sajangnim, tapi dia akan makan siang denganku”
‘bocah ini sepertinya
benar-benar ingin merebutnya dariku. Cih. Baiklah, kali ini aku mengalah’ batin
Jong Woon. “ya sudah kalau kau mau makan siang dengan Jin Young. Aku akan
kembali saja. Masih ada yang harus ku kerjakan” ucap Jong Woon pada Fira lalu
menoleh pada Jin Young dengan mata disipitkan. Jin Young tersenyum puas.
“tapi kalau paman mau ikut boleh kok” sela Fira yang tidak
mengerti situasi. Jelas-jelas Jong Woon dan Jin Young seperti memasang aura
permusuhan.
“tidak usah. Aku tidak mau mengganggu. Kalian pergilah”
**
“humh, paman kelihatannya sibuk sekali ya. Kasihan dia.
Sejak merangkap jadi manajerku, dia jadi tambah sibuk”
Jin Young mengacak rambut Fira gemas. “kau ini, kau dulu
semangat sekali mengatakan akulah takdirmu, tapi kenapa yang ada di pikiranmu
malah namja lain? Apa kau mencintai pamanmu itu?”
“eh~~? Tidak. Bukan begitu. Aku... mana mungkin aku
mencintainya. Dia kan pamanku” sanggah Fira yang tanpa sadar sedikit berteriak.
“lagipula kenapa kau membahas soal takdir? Bukannya kau membenci takdir
gara-gara...”
“dulu aku memang membenci takdir, tapi melihatmu yang begitu
menganggap indah takdir, aku mulai menyukai takdir. Dan aku sadar, tidak semua
takdir itu menyedihkan. Karena aku bahagia menjalani takdir dimana aku bisa
bersamamu seperti sekarang”
Fira terdiam sejenak. Berusaha mencerna kata-kata Jin Young
barusan. ‘apa itu tadi artinya pernyataan cinta?’ batinnya.
“Fira-ya, kalau dia, maksudku, pamanmu itu. Kalau dia bukan
pamanmu, apa kau akan mencintainya?”
**
Fira POV
Aku tidak mengerti apa maksud Jin Young tadi siang.
Tiba-tiba saja menanyakan hal seperti itu. Paman Jong Woon adalah pamanku. Jadi
tidak mungkin aku mencintainya.
Sementara aku memikirkan kejadian tadi siang, aku merasa
aneh. Jam segini biasanya paman akan masuk ke kamarku dan memberiku kecupan di
kening, tapi kenapa malam ini tidak? Bukankah dia sudah pulang dari tadi?
Karena penasaran, aku mencoba melihatnya di kamar. Ku lihat
dia sedang tertidur di atas meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala. Aku
berjalan mendekatinya dan mematikan laptop setelah memastikan dokumen paman
tersimpan.
Ku tarik sebuah kursi kecil di dekatku dan ku letakkan di
dekat paman. Kupandangi wajah paman yang tertidur pulas. “paman, tidak mungkin
kau bukan pamanku kan?” ucapku lirih.
Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. “tentu
saja kau pamanku ya. Bodoh sekali aku. Paman pasti lelah. Tidur yang nyenyak ya
paman” lanjutku. Sebelum aku beranjak pergi, aku kembali menatap wajah paman.
‘kali ini aku yang akan memberi kecupan selamat tidur’
**
Jong Woon POV
Ada seseorang masuk ke kamarku. Aku terlalu mengantuk untuk
membuka mata. Jadi kubiarkan saja. “paman, tidak mungkin kau bukan pamanku
kan?” ucapnya yang ternyata adalah Fira.
Dia menghela nafas dan kembali berkata “tentu saja kau
pamanku ya. Bodoh sekali aku. Paman pasti lelah. Tidur yang nyenyak ya paman”
lanjutnya. Setelah itu, sebuah kecupan mendarat di keningku.
Tepat setelah kupastikan dia benar-benar keluar aku membuka
mataku. “ani. Aku bukan pamanmu Fira. Kau hanya belum ingat. Kaulah yang
membuatku jadi pamanmu”
**
Fira POV
Paman ada rapat lagi dengan seorang perempuan cantik. Kata
paman, dia adalah salah satu musisi handal di Korea. Tapi entah kenapa
kedekatan mereka membuatku tidak nyaman.
“apa kau cemburu melihat kedekatan mereka?” tanya Jin Young
yang tiba-tiba saja datang dari belakang.
“apa maksudmu? Aku tidak sedang...”
“berhentilah menyangkal. Kau mencintainya bukan?”
“...”
“aku mengerti. Jadi kau benar-benar mencintai pamanmu
rupanya”
Iya. kali ini aku harus mengakuinya. Aku, perasaan ini. Iya,
aku mencintainya. Ah tidak. Ini tidak boleh. Aku langsung sadar dan
menggelengkan kepalaku cepat.
“tidak Jin Young. Ini salah. Aku tidak boleh mencintainya.
Dia pamanku. Aku harus pulang sekarang juga sebelum aku jadi gila karena
masalah ini”
“mwo? Kau mau pulang? Maksudmu ke Indonesia? Lalu bagaimana
dengan karirmu? Kau sekarang sedang naik daun”
“aku tidak peduli. Aku harus segera menghentikan perasaanku
pada paman. Sebelum aku menjadi tidak bisa melepaskan diri dari perasaanku
sendiri”
**
Hari ini aku kembali ke Indonesia. Paman mengantarku samapi
ke bandara. “kau yakin mau pulang? Bukankah liburanmu masih seminggu lagi?”
tanya paman.
Aku menggeleng pelan. Saat aku mengatakan mau pulang, aku
memang tidak mengatakan alasanku yang sebenarnya. Aku hanya bilang merindukan
ayah dan ibuku. Padahal seumur hidupku aku sama sekali tidak pernah merindukan
ayah menyebalkan itu.
Terdengar suara dari intercom yang membuatku harus segera
naik ke pesawat.
Aku berjalan meninggalkan paman. Aku tidak sanggup menoleh untuk sekedar
menatap wajahnya. Aku takut akan semakin sulit menghentikan perasaanku kalau
menoleh. Tapi perasaan ini... aku sudah tidak bisa mengendalikannya. Sudahlah.
Untuk yang terakhir kalinya saja. Aku kembali menoleh dan berlari menuju tempat
paman berada.
Sekarang aku sudah berdiri tepat di depannya. “apa ada yang
kau lupa?” tanyanya. Bukannya menjawab, aku malah menempelkan bibirku pada
bibir paman. “maaf paman. Untuk terakhir kalinya saja. Sepulang ke Indonesia,
aku akan menghentikan perasaanku ini. Sekali lagi maafkan aku karena
mencintaimu sebagai laki-laki dan maafkan aku karena menciummu” ucapku cepat
dan langsung berlari naik ke pesawat.
**
Aku hanya duduk
memandangi pemandangan di luar dari jendela. Terlihat beberapa temanku sedang mengospek para
mahasiswa baru itu. Sekarang aku adalah mahasiswa jurusan sastra Korea.
Sebenarnya aku tidak mau lagi berhubungan dengan segala sesuatu tentang Korea
lagi, tapi ayah memaksaku. Dasar ayah menyebalkan itu, aish!.
Tanpa
terasa sudah tiga tahun aku meninggalkan Korea dan tidak lagi bertemu dengan
paman. Gara-gara kejadian
waktu itu, aku justru tidak bisa melupakan paman. Semua gara-gara namja nakal
itu. Apa sih yang dia pikirkan sampai melakukan itu? Apa dia mau menjalin
hubungan terlarang denganku? Yang benar saja. Aish!! Setiap kali mengingatnya
rasanya aku kesal sendiri.
**
Flashback
Setelah
mencium paman, aku berbalik dan berlari menuju pesawat. Tapi paman menangkap tanganku dari belakang dan
berhasil membuatku berbalik. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajahku. “aku
tidak akan membiarkanmu menghentikan perasaanmu. Jangan pernah lupakan perasaan
itu dan melupakanku” ucap paman daaannn… CHUP . dia menciumku? Apa yang dia
lakukan?
“dengan begini,
cukup membuatmu tidak melupakanku kan?” lanjut paman dengan senyuman evil.
“sudah
sana. Cepat naik. Pesawatmu sudah mau berangkat”
Flasback End
**
Jin Young POV
Ini pertama
kalinya aku berkunjung ke Indonesia. Aku ke sini karena merindukan seorang
yeoja yang sempat membuatku jatuh cinta lagi.
Aku
berjalan menyusuri lorong gedung ini. “sst, eh, siapa dia? Wah, tampan sekali
ya” bisik salah seorang yeoja pada temannya sambil memandangiku.
Aku sampai
pada sebuah ruangan. Cukup sepi. Hanya ada seorang yeoja yang sedang duduk
bertopang dagu dan memandang keluar jendela. aku berjalan mendekatinya.
“annyeong, lama tidak ketemu” sapaku.
Yeoja itu
menoleh. Dia terlihat sedikit terkejut. “annyeong. Jin Young, kenapa bisa di
sini?”
“karena aku
merindukanmu” jawabku asal meski memang itu yang terjadi. Aku merindukannya.
**
“Jin Young,
mian ya. Apa sejak waktu itu kau kembali menyalahkan takdir?”
“eum? Ani.
Meski aku tau kau mencintai sajangnim, aku tidak kembali jadi seperti dulu”
“jinjja?
Syukurlah”
“kau sendiri, apa
sudah bisa melupakan perasaanmu?”
Fira menggeleng
pelan. “hemh, padahal aku datang karena kupikir aku sudah punya kesempatan
untuk masuk ke hatimu”
Fira
meninju bahuku pelan. “ani Jin Young. Kalaupun nantinya aku sudah tidak lagi
mencintai paman, posisimu di hatiku tetap hanya sebagai idolaku. Tidak bisa
lebih”
Kami tiba di
sebuah taman bermain dekat rumah Fira. Fira terlihat tidak senang. “kita cari
tempat lain saja”
“wae? Di
sini saja”
Aku menyuruhnya
duduk sebentar di ayunan. Aku meninggalkannya sendirian dengan alasan ada yang
harus ku ambil di mobil.
Aku
bersembunyi di balik pohon yang sedikit jauh dari tempat Fira berada. Ku lihat
seorang namja memeluk Fira dari belakang. Namja itu adalah Kang sajangnim. Ah~, aku jadi ingat saat aku dulu pertama
kali tau dia juga mencintai Fira dan ternyata bukan paman Fira. Saat itu, saat
aku dan Fira syuting iklan di pulau jeju.
**
Flashback
“sajangnim,
bukankah kau tidak terlihat terlalu memperhatikan Fira?”
“memangnya
kenapa kalau aku
memperhatikannya seperti itu?”
“kau
terlihat seperti sedang memperhatikan yeoja chingumu. Kau terlihat
mencintainya”
“nae. Aku
memang mencintainya. Wae?”
“mwo? Dia
itu keponakanmu”
“ani. Dia
bukan keponakanku. Kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi”
Flashback End
**
Fira POV
Jin Young kemana
ya? Aku ingin pergi dari sini. Tempat ini membuatku ingin marah. Tapi aku tidak
tau kenapa aku ingin marah.
Saat aku masih
menunggu Jin Young kembali, ada seseorang merangkulkan kedua tangannya di atas
bahuku dari belakang. Kepalanya
di sandarkan pada bahu kiriku. Aku sampai bisa merasakan hembusan nafasnya.
“paman?”
“bogoshippo
Fira” ucapnya lembut dengan masih memelukku.
“…”
“apa kau ingat
tempat ini?”
“...?”
“kau lupa karena
kau marah padaku ya?”
“apa yang
paman bicarakan? Aku…”
“tempat ini
adalah tempat kenangan kita berdua waktu kecil. Sebelum aku kembali ke Korea
waktu itu, kau terus merengek dan memintaku untuk jangan pergi”
**
Flashback
Jong Woon POV
“pamaann… jangan
pulang. Paman di sini saja” rengek Fira sambil menangis. Aku tidak tega
melihatnya. Karena itu ku ajak dia ke taman dekat rumahnya untuk menghiburnya
sebentar.
Sampai di taman
dia masih sesenggukan meski sudah tidak lagi mengeluarkan air mata.
Aku memetikkan
bunga liar yang tumbuh di taman dan ku berikan pada Fira. “Fira, sudah, jangan
menangis. Aku janji aku akan kembali” ucapku lembut sambil menghapus air
matanya.
“paman,
lain kali saat kau kembali kita menikah saja ya. Jadi aku bisa ikut kemanapun
kau pergi seperti ibuku yang mengikuti ayah pergi” ucapnya polos.
Haha, dasar
anak ini. “baiklah. Lain kali saat aku datang kita menikah ya” jawabku tidak
serius untuk membuatnya senang.
“hore!! Aku
akan jadi istrinya paman!!” serunya.
Flashback End
**
“kau sudah
ingat?”
Dia masih
terdiam. Tapi dari ekspresinya bisa kutebak kalau dia sudah ingat.
“kenapa kau
melupakannya Fira?”
“aku, … aku
kecewa pada paman karena tidak juga menepati janji paman. Paman juga sama
sekali tidak ada kabar. Aku lupa karena aku terlalu kecewa. Mungkin. Karena
waktu itu aku masih kecil”
Aku semakin
mengencangkan pelukanku. “sekarang, bolehkah aku tidak menjadi pamanmu lagi dan
menepati janjiku menjadi suamimu?”
“eum,…
tentu” jawabnya pelan. Rona merah menyelimuti wajah cantiknya itu.
Dia membalas
pelukanku dengan memeluk lenganku. Aku pun semakin memeluknya erat. “sarange Chagi”
“nado… ahjussi”
“kau masih
memanggilku paman? Aish… terserah kau sajalah” protesku, tapi Fira hanya
tertawa kecil mendengarnya.
**
Flashback
Author POV
“Fira,
kenalkan, ini paman Jong Shu, ini tante Cahya, dan yang ini Jong Woon” ucap ayah memperkenalkan keluarga
temannya ini pada Fira.
Mata Fira
langsung membulat dan membentuk puppy eyes. Fira langsung nemplok ke Jong Woon
dan memeluk lengannya. “pamanku yang ini keren!!” ucapnya polos.
“bukan Fira,
pamanmu yang ini. Dia itu anaknya” jelas ibu.
“umh! Yang itu
udah tua !! nggak mau. Maunya
yang ini aja”
“eeh?? Tapi
aku bukan pamanmu” protes Jong Woon.
“Chukkae ya
Jong Woon. Baru datang
sudah dapat keponakan” goda ibunya Jong Woon.
“umma,
jangan ikut-ikutan!!”
Semua orang
malah tertawa. Sedangkan Jong Woon
cemberut dan Fira masih memandangi Jong Woon dengan polosnya.
Flashback End






0 komentar:
Posting Komentar