Cerita sebelumnya...
Kang Jong Woon, orang yang
katanya adalah Pamannya Fira tiba-tiba datang ke Indonesia dan menginap
di rumah Fira selama beberapa hari. Ketika Jong Woon mau kembali ke
Korea, Fira merengek untuk ikut dengannya. Meskipun awalnya dilarang
tapi akhirnya dia berhasil mendapat izin dari ayahnya untuk ikut Jong
Woon ke Korea.
Mau tau kelanjutannya? ini dia part ke2 FF Destiny... yuhu~ yuk langsung dibaca. jangan lupa comment yak ^^ makasih
Author POV
Hari ini Fira di ajak Jong Woon ke sebuah gedung
pertunjukan. Setelah beberapa hari tinggal dengan pamannya ini, Fira baru tau
kalau Jong Woon itu adalah direktur dari sebuah manajemen artis.
Jong Woon yang ada urusan di belakang panggung terpaksa
harus meninggalkan Fira sendirian di bangku penonton.
Pertunjukan di mulai. Fira begitu terkejut saat tau ternyata
itu bukan hanya pertunjukan biasa. Tapi konser Jin Young, solois Korea kesukaan
Fira. Fira merogoh sakunya mencoba mengambil ponsel. “Aahh! Sial! Ponselku
tertinggal di mobil” seru Fira.
Selama pertunjukan berlangsung, Fira hanya bisa gigit jari.
Baginya rasanya mau menangis saja karena tidak bisa mengabadikan momen
sepenting ini. Dan dia benar-benar hampir menangis saat memasuki sesi
tandatangan dan foto bareng.
Begitu pulang, Fira terus menangis. Jong Woon bingung harus
melakukan apa. Soalnya dia juga merasa bersalah telah membuat Fira gegalauan
selama dua jam lebih.
Malam harinya, saat Fira sudah terlelap, Jong Woon duduk di
samping kasurnya. Dipandanginya wajah Fira yang seddang tidur. “maaf soal tadi
siang. Aku tidak tau kau sebegitu sukanya dengan Jin Young. Sampai-sampai kau
menangis seperti tadi. Lain kali aku tidak akan membuatmu seperti tadi” ucap
Jong Woon lembut sambil membelai rambut Fira.
CHUP
Jong Woon mencium kening Fira sebelum akhirnya beranjak pergi
dari kamar Fira. Fira yang belum terlelap kembali bangun setelah di cium Jong
Woon. Tangannya meraba keningnya. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar lebih
kencang.
**
Kali ini Fira di ajak Jong Woon ke lokasi shoting pembuatan
video clip untuk album baru Jin Young. Sejak dari apartemen Jong Woon, Fira
sangat senang dan bersemangat. Dia bahkan sudah menyiapkan segala sesuatunya.
Mulai dari ponsel, camera digital, dan juga spidol untuk minta tanda tangan Jin
Young.
Begitu sampai di lokasi, lagi-lagi Jong Woon harus
meninggalkan Fira karena ada urusan dengan kru yang lain.
Selama di tinggal, Fira diam-diam terus merekam Jin Young.
Sampai tiba-tiba ada seorang pria berkacamata menghampirinya dan mengatakan
sesuatu. Tentu saja Fira tidak mengerti apa yang di ucapkannya. Pria itu menyita camera digital milik Fira.
Tapi kali ini Fira mencoba untuk tidak frustasi lagi seperti
beberapa hari yang lalu. Fira mulai mengeluarkan lolipop yang dia bawa dan
menikmatinya di dekat kolam yang ada di sekitar sana sambil berkhayal.
**
“CUT! Apa-apaan kau nona Kim? Aktingmu buruk sekali! Dari
tadi kau tidak juga memperlihatkan ekspresi yang sesuai! Kita sudah mengulangi
scene ini berapa kali nona Kim?! Ha?!” seru sutradara Han.
“mianhae..” ucap Kim Hye Ri.
Jong Woon yang melihat itu langsung mendekat. “ada apa
sutradara Han?”
“lebih baik kita cari model lain atau shoting ini tidak akan
selesai dalam satu hari. Kau tau kan jadwalku sangat padat?”
“tapi sutradara...” perkataan Jong Woon terpotong oleh
desisan Sutradara Han. Dia memberikan sebuah tanda pada kru yang lain. Seolah
mengerti, mereka pun menuruti perintah Sutradara Han dan mulai merekam seorang
gadis yang sedang duduk di dekat kolam. Sutradara Han menoleh ke arah Jong
Woon. “aku akan mengganti modelnya dengan yeoja itu. Anda tidak keberatan kan
Sajangnim?”
Jong Woon menyipitkan matanya ke arah yang di maksud untuk
melihatnya lebih jelas. “itu kan Fira” batin Jong Woon.
“bagaimana Sajangnim?”
“um... ne, silahkan tapi, apa dia bisa? Dan apa nona Kim
tidak keberatan tiba-tiba di ganti seperti ini?”
“kalau aku, aku tidak keberatan. Berhubung ini salahku juga.
Aku percaya pada intuisi Sutradara” ucap Kim Hye Ri.
Akhirnya shoting kembali di mulai dengan Fira sebagai
modelnya. Shoting yang rencananya di lakukan dengan beberapa scene dan di
beberapa lokasi di ubah menjadi satu scene di satu loasi untuk menjaga agar
tidak mengubah ekspresi Fira yang dengan polosnya tidak sadar kalau sedang
menjadi model video clip Jin Young.
**
Fira POV
Aku kembali melirik ke arah lokasi shoting. Aku begitu
terkejut saat melihat Jin Young datang menghampiriku dengan senyumannya yang
sangat sangat sangat manis dan setangkai bunga mawar di tangannya. Aku ingin
menjerit histeris tapi karena takut dia jadi membenciku dengan ulahku itu, aku
lebih memilih diam meskipun jantungku rasanya hampir copot. Apa lagi saat dia
sudah di dekatku, memberiku mawar yang dia bawa tadi, meraih kedua tanganku dan
menciumnya.
**
Author POV
Jong Woon terus mengawasi jalannya shoting. “untunglah anak
itu sangat polos. Tapi, yang benar saja. Masa sampai tiba-tiba tangannya di
cium oleh Jin Young dia tidak sadar juga? Dia itu polos atau bodoh sih?” batin
Jong Woon.
**
Keesokan harinya.
Fira masih melamun dan tidak percaya kalau kemarin tangannya
baru saja di cium Jin Young. Dia bahkan tidak berhenti tersenyum sendiri sambil
memandangi tangannya.
“Fir, hari ini aku ada rapat. Kau mau ikut atau tetap di
apartemen?”
“um, sebenarnya aku tidak enak pada paman karena terus
menempel pada paman. Tapi paman, kau jimat keberuntunganku. Berkat kau aku bisa
bertemu Jin Young. Karena itu. Boleh ya aku ikut paman” ucapnya dengan puppy
eyes.
Jong Woon tersenyum lalu mengacak rambut Fira. “tentu saja”
**
Selama rapat, Jong Woon membiarkan Fira untuk berkeliling
kantor dengan di temani Sandeul, salah satu stafnya.
“kalian tidak boleh mengganti modelnya begitu saja. Kita
sudah tanda tangan kontrak” protes manajer Hye Ri saat rapat.
“sudahlah eon, ini salahku juga. Kang sajangnim sudah
memperingatkan aku untuk tidak boleh ada kesalahan. Tapi kemarin aku justru
terus-terusan salah” sela Hye Ri.
“nah, kau sudah dengar sendiri apa kata artismu kan?” sahut
sutradara Han.
“baiklah, kita anggap masalah ini selesai. Lalu bagaimana
dengan kelanjutan video clipnya? Apa sudah beres semua?” sela Jong Woon.
“semua sudah beres. Tapi ada sedikit masalah dengan
covernya. Kami pikir akan lebih bagus kalau covernya itu foto Jin Young dengan
yeoja yang ada di video clipnya. Tapi kami tidak tau bagaimana cara menghubungi
yeoja itu lagi” jelas salah satu staf.
“apa tidak bisa kita potong saja salah satu adegan di
videonya lalu kita jadikan cover?”
“tidak bisa. Akan terlihat aneh kalau kita mengambil dari
video”
Jong Woon menghela nafas. “baiklah kalau begitu,apa boleh
buat. Jadi kapan kita bisa melakukan pemotretan?”
“tapi sajangnim, modelnya..”
“sudah, soal itu biar aku yang urus. Kalian siapkan saja
semuanya”
“oh, sebenarnya sih kita bisa mulai kapan saja”
“baiklah. Kalu begitu kita lakukan pemotretannya siang ini
setelah jam akan siang”
**
Saat jam makan siang, Jong Woon memberitahukan Fira tentang
shoting kemarin dan pemotretan hari ini. Fira agak kaget ketika tau kalau dia
di jadikan model video clip.
“dengar Fira, dunia hiburan tidak semenyenangkan yang kau
kira. Kau bisa saja berubah jadi orang yang kau sendiri tidak kenal. Tapi ini
pilihanmu. Aku tidak bisa memaksa” jelas Jong Woon.
Fira malah tersenyum evil. “paman mengkhawatirkan aku ya?
Senangnya. Sini, peluk peluk!” ucap Fira sambil merentangkan kedua tangannya ke
arah Jong Woon untuk memeluk Jong Woon.
“Fira, bukan saatnya bercanda. Kau harus memutuskannya
sekarang”
“hehe, paman tidak usah khawatir. Lagipula aku kan di sini
hanya sebentar. Kalaupun aku sekarang masuk dunia hiburan, itu kan hanya
sebentar”
“jadi kau setuju? Lalu bagaimana dengan liburanmu?”
“tidak apa-apa paman. Anggap saja ini untuk mengisi
liburanku juga. Tapi kalau paman tetap khawatir, paman bisa jadi manajerku kan.
Aku hanya akan menerima pekerjaan yang di setujui paman. Bagaimana?”
“umh, baiklah”
**
“sajangnim, bagaimana kau bisa menemukannya secepat ini?”
tanya salah satu staf pada Jong Woon sambil melihat ke arah Fira yang sedang di
rias dari kejauhan.
“itu karena dia terus menempel padaku” jawab Jong Woon asal.
**
Fira POV
Aah~ akhirnya selesai juga. Pemotertan tadi membuat
jantungku terus berdebar-debar gara-gara berada sedekat itu dengan Jin Young.
Aku hampir saja tersedak saat meminum jus pemberian paman
tadi gara-gara Jin Young yang tiba-tiba duduk di sampingku. Duh, salting nih
aku jadinya.
“Tuhan, inikah takdir indah yang kau pertandakan waktu itu?”
Jin Young menoleh ke arahku. “kau percaya takdir?”
“em? Kau mengerti apa yang ku katakan tadi? Kau, bisa bahasa
Indonesia?”
“bahasa Indonesia? Ani. Aku tidak bisa. Bukannya kau bicara
dalam bahasa korea?”
“he? Aku tidak bisa bahasa Korea. Tunggu! Kalau kita tidak
bisa bahasa masing-masing, kenapa kita bisa ngobrol? Jangan-jangan....” refleks
aku langsung menutup mulutku dengan satu tangan karena tidak percaya.
“jangan-jangan apa?”
“jangan-jangan kau memang takdirku!”
Jin Young malah tersenyum. Tapi senyumnya terlihat sangat
pahit. Senyum yang di paksakan. “kau, kenapa bisa sebahagia itu mempercayai
takdir? Tidak semua takdir itu indah”
Karena tidak mengerti dengan maksud perkataannya aku hanya
memiringkkan kepalaku. Sebelum sempat menjawab, dia malah pergi.
**
“Paman, Jin Young tadi kira-kira kenapa ya?”
“memangnya dia kenapa?”
“entahlah, tadi saat aku bicara dengannya dan mengatakan tentang
takdir, dia malah seperti tidak senang dan sedih”
“um? Kalian ngobrol? Bukankah kalian tidak bisa bicara dalam
bahasa masing-maasing?”
“entahlah. Justru karena itu, tadi aku mengkaitkannya dengan
takdir dan ekspresinya langsung berubah”
“mungkin karena kenangan tentang almarhum tunangannya”
“...?”
“sejak tunangannya meninggal, dia terus-terusan
menyalahkan takdir dan menganggap semua takdir itu menyedihkan”**
to be continoued...







0 komentar:
Posting Komentar