Author : Akina Furi
Genre : Love Live (?)
Rate : Teen
Cast : - Jung Eun Ji (A Pink) as Han Chae Ri
- Jung Jin Young (B1A4)
- Cha Sun Woo ( B1A4)
- Park Chorong (A Pink)
- Jang Eun Mi, dll
ini adalah FF lama yang lama mengendap di folder laptopq.... daripada nganggur, mending aku posting sekalian.... ini berpart tapi buat kalian yang menunggu part selanjutnya harus ekstra sabar karena authornya suka moody ... hehe... maaf juga kalau ada banyak typo .. Happy Reading ^.^/
apakah aku punya hak untuk merasa memiliki dan dimiliki olehmu? .....
-Han Chae Ri-
Author POV
Flashback
“huu.. hu hu
hu.. hiks.. huu hu hu” tiba-tiba saja Chae Ri menangis sambil berjongkok dan
menutupi mukanya menggunakan lututnya. Sun Woo datang menghampiri Chae Ri
khawatir. Dia ikut berjongkok di hadapan Chae Ri.
“gwechannayo?
Kenapa kau menangis?” tanya Sun Woo khawatir. Tapi Chae Ri tidak menjawab dan
terus menangis. Sun Woo semakin mendekatkan mukanya ke depan muka Chae Ri.
“Chae Ri-ya?”
panggilnya lagi dengan hati-hati. Akhirnya Chae Ri berhenti menangis dan menatap
Sun Woo dengan mata sembabnya. Tapi sedetik kemudian tiba-tiba Chae Ri mencium
bibir mungil Sun Woo dan tersenyum lebar. Sun Woo yang kaget langsung ambruk ke
belakang. “yak! Kau mengerjaiku rupanya!” bentak Sun Woo sambil menutup
bibirnya dengan punggung tangan kirinya. Mukanya terlihat merah padam. Chae Ri
malah semakin tersenyum lebar.
“soalnya kalau
tidak begini kau tidak akan mendekatkan mukamu dengan mukaku. Kan kalau tidak
begitu aku jadi tidak bisa menciummu. hehe” ucap Chae Ri dengan masih tersenyum
lebar dengan santainya.
“Sun Woo-ya,
kita pacaran yuk” lanjut Chae Ri.
Sun Woo terkejut
mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh temannya ini. Secara mereka masih
berumur sepuluh tahun. Masa mau pacaran???
“aku menyukaimu.
Jadi ayo kita pacaran saja” ucap Chae Ri lagi.
Flashback End
**
Chae Ri berjalan
menyusuri jalan menuju rumahnya. Ia tersenyum-senyum sendiri mengenang masa
lalunya saat dia mengajak Sun Woo untuk pacaran, dan Sun Woo menerimanya
ajakannya. Hubungan mereka masih berlanjut hingga sekarang, saat mereka sudah
duduk di kelas dua SMA. Sun Woo terus bertahan dengan hubungan mereka, meski
terkadang Chae Ri suka seenaknya sendiri, atau bersikap aneh. Tapi akhir-akhir
ini mereka jadi jarang bertemu . Sun Woo bilang sih karena sibuk dengan
kegiatan OSIS. Secara dia kan ketua OSIS.
Chae Ri
tiba-tiba teringat akan sesuatu dan langsung menepuk keningnya sendiri. “ah
iya! kan dua hari lagi ulang tahunnya Sun Woo. Aaahh!! Aku masih bingung mau
memberi apa pada Sun Woo. Aku belum menyiapkan apapun. Eoteokhae??” ucap Chae
Ri pada dirinya sendiri. Dia langsung berjongkok dan mengacak-ngacak rambutnya
sendiri saking bingungnya.
**
Chae Ri
berkeliling sekolah mencari keberadaan Sun Woo. Hari ini dia memutuskan untuk
menjadi stalker sehari hanya untuk mencari tahu hadiah apa yang harus dia
berikan untuk namjachingunya itu.
“ itu Chae Ri
kan? Kasihan ya dia. Padahal dia cantik, baik hati dan begitu perhatian pada si
ketua OSIS, tapi malah.....” ucap salah satu murid yeoja yang dilewati Chae Ri.
“psst, jangan
keras-keras” bisik teman yang ada di sebelahnya. Chae Ri sebenarnya mendengar
pembicaraan mereka, tapi karena dia tidak mengerti yang mereka maksud, Chae Ri
lebih memilih untuk tidak memikirkannya.
Sesampainya di
depan ruang OSIS, Chae Ri mengintip dari jendela. Dia melihat Sun Woo sedang
bersama Eun Mi, sekertaris OSIS. Chae Ri mencoba menajamkan pendengarannya agar
bisa mendengar apa yang di ucapkan Sun Woo.
“Haah, padahal
masih pertengahan bulan November, tapi sudah dingin sekali” keluh Sun Woo di
dalam.
“haha, Sun
Woo-ya, kau ini benar-benar tidak tahan dingin rupanya”
“makanya kau...”
Chae Ri tidak mendengar apa yang di ucapkan Sun Woo selanjutnya karena ada
murid lain yang lewat dan dia harus berpura-pura melakukan sesuatu agar tidak
ketahuan kalau ternyata dia sedang menguping pembicaraan orang-orang di ruang
OSIS.
**
Setelah aksi
mengupingnya tadi di sekolah, Chae Ri mendapat ide untuk membuatkan syal agar Sun
Woo bisa tetap hangat selama musim dingin. Dengan penuh semangat Chae Ri
melenggang di mall setelah selesai berbelanja bahan-bahan untuk membuat syal.
Langkah Chae Ri
terhenti ketika melihat Sun Woo dan Eun Mi. Tadinya dia ingin mendekat dan
menyapa. Tapi dia mengurungkan niatnya ketika dia melihat Sun Woo yang tertawa
dan tersenyum lalu mengacak rambut Eun Mi. Terlihat sangat akrab dan....
romantis.
“saranghae Eun
Mi-ya” tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut Sun Woo dan bagai petir yang
menyambar Chae Ri saat itu juga. Chae Ri merasa sesak dan sangat ingin menangis
namun dia hanya menggigit bibir bawahnya. Dia terus berdiri terpaku menatap
pemandangan miris itu. Belum cukup dengan ucapan Sun Woo tadi, pemandangan
menyesakkan pun semakin menjadi ketika Sun Woo mencium Eun Mi.
Sun Woo dan Eun
Mi saling pandang cukup lama setelah itu. Sun Woo pun menoleh ke arah lain
karena malu kalau lebih lama memandang wajah Eun Mi. Tapi secara tidak sengaja
saat dia menoleh itu, pandangannya bertemu dengan Chae Ri yang masih terpaku di
sana. Senyumnyapun memudar.
Karena sudah
terlanjur ketahuan kalau dia ada di sana, Chae Ri terpaksa mendekat dan menyapa
mereka tentunya dengan menyembunyikan perasaannya yang hancur berkeping-keping.
“Chae Ri-ya. Ya-yang tadi itu...” ucap Sun Woo terbata-bata. Eun Mi sendiri
juga terlihat canggung.
“kalian pacaran
ya? Chukkae ne. Tapi Eun Mi-ya, bolehkah aku meminjam Sun Woo dulu sampai
besok?” tanya Chae Ri. Sun Woo dan Eun Mi saling pandang bingung dengan reaksi
Chae Ri.
**
sebenarnya aku......
**
Chae Ri POV
“kalian pacaran
ya? Chukkae ne. Tapi Eun Mi-ya, bolehkah aku meminjam Sun Woo dulu sampai
besok?”
Entah apa yang
kupikirkan ketika mengatakannya tadi. Tapi sekarang aku dan Sun Woo sudah
berada di cafe langganan kami. Eun Mi sendiri sudah pulang duluan.
Tak ada satupun
dari kami yang angkat bicara padahal sudah lebih dari setengah jam.
“mian karena aku
sudah selingkuh di belakangmu” ucap Sun Woo singkat akhirnya. Aku mendongak dan
menatapnya namun tetap diam.
Dia yang tadinya
memasang ekspresi bersalah kini berubah menjadi sok angkuh. “hemh, tapi
sepertinya kau tidak masalah. Kau bahkan terlihat baik-baik saja. Kau tau, aku
melakukan ini karena aku merasa kau hanya main-main. Mana ada orang yang
baik-baik saja setelah melihat
pemandangan seperti itu kecuali dia tidak benar-benar cinta”
Hatiku rasanya
semakin teriris saja mendengar kata-katanya barusan. Apa maksudmu? Siapa yang
baik-baik saja? Tapi sesakit apapun yang kurasakan sekarang, aku tidak boleh
menangis. Tahan.
“jadi kupikir
kita...”
“emh, Sun Woo-ah, aku mengerti” selaku sebelum dia mulai
menyayat hatiku lagi dengan kata-katanya.
“kau ingin kita
putus kan? Tapi kau ingat besok tanggal berapa? Tanggal 17. Ulang tahunku. Masa
aku melewati ulang tahun sendirian? Besok temani aku untuk terakhir kalinya ya.
Jebal” pintaku dengan nada seperti anak kecil seperti yang biasa kulakukan
untuk semakin menyamarkan kesedihanku darinya.
**
Sun Woo POV
“kau ingin kita
putus kan? Tapi kau ingat besok tanggal berapa? Tanggal 17. Ulang tahunku. Masa
aku melewati ulang tahun sendirian? Besok temani aku untuk terakhir kalinya ya.
Jebal”
Mwo?
Bisa-bisanya dia mengatakan itu dengan riang. Tidakkah dia sedih? Chae Ri-ya, andai kau tau, aku sebenarnya mencintaimu.
Aku selingkuh karena ingin melihat apa kau main-main atau tidak. Karena kau
sudah membuatku benar-benar mencintaimu. Tapi kenapa kau bersikap seperti ini?
Apa kau benar-benar hanya main-main?.
Akhirnya dengan
berat hati aku harus menerima kenyataan kalau Chae Ri tidak pernah mencintaiku.
Dan besok, aku akan melewatkan satu hari bersamanya untuk yang terakhir kali. Menemaninya
di hari ulang tahunnya.
**
Author POV
“kau bilang mau
kutemani seharian, tapi kenapa kau baru mengajakku jam segini? Ini sudah jam
sebelas malam. Hari ulang tahunmu sudah hampir berakhir” tanya Sun Woo.
Mereka kini
sudah berada di pelabuhan menikmati udara laut pada malam hari. Chae Ri sendiri
hanya tersenyum sambil menelentangkan kedua tangannya membiarkan udara malam
menerpa.
“kau hanya ingin
kutemani seperti ini?” tanya Sun Woo lagi setelah satu jam berlalu. Chae Ri
tetap diam dan masih tetap pada aktivitasnya.
“sebentar lagi
hujan” ucap Cahe Ri tiba-tiba. Sun Woo hanya mengerutkan keningnya. Chae Ri
berbalik sambil tersenyum. Dia menyerahkan tas kertas yang dari tadi di bawanya
pada Sun Woo. “pulanglah” ucapnya singkat ketika Sun Woo sudah menerima hadiah
itu. Sun Woo semakin tidak mengerti. Tanpa menjelaskan apapun, Chae Ri langsung
pergi dari hadapannya dan pulang.
**
Keesokan harinya
Shin Woo, Sandeul, dan Chanshik berkumpul di ruang OSIS dan memberi ucapan
selamat ulang tahun pada Sun Woo. “haeh, suasana jadi sepi setelah kau dan Chae
Ri putus” celetuk Shin Woo –pria berambut agak gondrong dengan kacamata
menghias di wajahnya-.
“kau sih, pakai
acara selingkuh segala” cela Sandeul.
“kan kau yang
memberiku ide untuk menguji cinta Chae Ri” balas Sun Woo yang tidak terima
disalahkan. Sandeul yang notabene suka ceplas ceplos itu dulu memang sempat memberi saran yang menurut Sun Woo gila
meskipun akhirnya dia lakukan juga.
“yah, tapi kan
tidak usah menyatakan cinta dan ciuman di tempat umum segala”
“hei, sadarlah,
dia itu hasil ajaran darimu” bela Shin
Woo sedangkan Sandeul hanya cengengesan minta maaf.
“jadi begitu
putus, dia langsung menceritakan semua pada kalian rupanya” ujar Sun Woo dengan
sinis. Shin Woo, Sandeul, dan Chan Shik saling pandang mendengar kesinisan Sun
Woo barusan.
“mwo? Chae Ri
sama sekali tidak cerita apapun pada kami. Kebetulan saja saat kejadian kami
sedang makan di foudcourt dekat sana
dan melihatnya langsung. Kenapa kau tiba-tiba jadi sinis begitu pada Chae Ri?”
tanya Shin Woo heran.
Chan Shik
tadinya tidak ingin ambil pusing dan ikut campur perkara putusnya nunanya
dengan Sun Woo. Tapi dia merasa harus meluruskan kesalahpahaman agar nuna
kesayangannnya tidak mendapat perlakuan sinis dari Sun Woo. “mianhae hyung, asal
kau tau, nuna bukan orang yang akan menceritakan hal seperti itu. Sesakit hati
apapun, nuna akan selalu menyimpannya dalam hati dan menanggungnya sendiri.
Itulah kenapa sejak awal aku menentang ide Sandeul hyung yang menyuruhmu
selingkuh. Karena aku tau itu percuma. Tidak akan membuatnya terlihat cemburu
walaupun mungkin sebenarnya sudah membuatnya sangat hancur. Nuna itu... bukan
orang yang menunjukkan kesedihannya hyung”
**
Jam pulang
sekolah. Tapi Sun Woo masih terdiam di ruang OSIS. Dia teringat perkataan Chan
Shik tadi saat jam istirahat. Dia mulai penasaran dengan isi tas kertas
pemberian Chae Ri semalam. Ternyata di dalamnya berisi sebuah syal berwarna
merah dengan secarik kertas di dalamnya.
Saengil
Chukkae. Ini hadiah terakhirku sebelum kita putus. Kuharap kau suka dan tidak
kedinginan lagi.
“hyung, kau
masih di sini rupanya?” ucap Chan Shik yang menyadarkan Sun Woo dari
lamunannya. “ada apa? Tidak biasanya hyung menyendiri di ruang OSIS padahal
sudah jam pulang”
Untuk sesaat
ruangan tersebut hening karena Sun Woo tidak segera menjawab. “Hei, menurutmu
kenapa Chae Ri begitu tertutup dengan perasaannya?” tanya Sun Woo lirih.
Pandangannya masih terpaku pada bungkusan kado dan secarik kertas yang ada di
tangannya itu.
Kedua alis Chan
Shik saling terpaut. Sedetik kemudian ia akhirnya paham. Ia merubah posisinya
menjadi bersandar pada pinggiran pintu dan melipat kedua tangannya. “dia hanya
tidak punya keberanian untuk merasa memiliki ataupun dimiliki. Kau tahu,
mungkin itu karena dia trauma dengan kejadian saat kedua orang tua kami
berpisah dan akhirnya menelantarkan kami di panti asuhan”
Hati Sun Woo
serasa teriris. Dia baru ingat pada kejadian saat Chae Ri pertama kali tiba di
panti asuhan. Awalnya Chae Ri terlihat biasa saja. Ia bagaikan matahari yang
selalu menceriakan suasana panti asuhan. Namun beberapa hari setelah itu Chae
Ri selalu berdiri memandangi pagar di pintu masuk panti. Sun Woo baru sadar,
ternyata sikap Chae Ri waktu itu bukan tanpa alasan melainkan karena ia
mengharapkan kehadiran ibunya di balik pagar tersebut untuk menjemput mereka
berdua –Chae Ri dan Chan Shik-. Bagi Sun Woo yang sejak kecil sudah berada di
panti asuhan, ia tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Chae Ri. Perasaan
ditelantarkan. Ditelantarkan oleh seseorang yang kau pikir tidak akan pernah
meninggalkanmu tapi tiba-tiba meninggalkanmu begitu saja tanpa mengatakan
apapun.
**
Sun Woo POV
Hampir enam
tahun sudah aku dan Chae Ri pacaran. Tapi ternyata aku sama sekali tidak
mengenalnya. Aku tidak tahu apapun tentangnya. Aku tidak tahu kesedihan apa
yang selama ini dia pendam. Dan dengan egoisnya aku justru mengkhianatinya.
Hari ini adalah
hari ketiga sejak hari ulang tahunku berlalu. Sejak saat itu aku sama sekali
belum melihatnya. Chan Shik bilang Chae Ri baik-baik saja.
“apa yang sedang
kau pikirkan, oppa?” tanya Eun Mi yang sejak tadi menemaniku duduk di bangku
taman.
“ani. Aku tidak
sedang memikirkan apa-apa” jawabku lalu membenarkan letak syal merah yang
melilit leherku.
Eun Mi
memandangiku sejenak. “syal itu dari Chae Ri, ya?”
Entah kenapa aku
langsung menahan nafas begitu dia menanyakan hal tadi. “apa kau masih
mencintainya? Kau.... kau ingin kembali padanya?” lanjutnya ragu.
“entahlah.
Awalnya aku memacarimu karena hanya ingin memanfaatkanmu agar dia cemburu. Tapi
lama kelamaan aku mulai mencintaimu juga”
“nappeun”
cecarnya sedikit bercanda.
“arraseo. Aku
memang nappeun namja. Makanya aku ingin minta maaf padamu. Aku belum bisa
menentukan pilihan”
**
Author POV
“nuna, aku
berangkat ke sekolah dulu, ya” pamit Chan Shik. Hari ini Chae Ri masih memilih
untuk menetap di rumah. Dia ingin menghibur dirinya dulu beberapa hari ini.
Beberapa saat setelah
Chan Shik pergi, Chae Ri melangkah keluar rumah mencoba jalan-jalan di sekitar
kompleks. Ia melonjak kaget ketika tiba-tiba Jin Young melompat dan
mengejutkannya.
“hei! Kau bolos
lagi? Mulai nakal ternyata nona yang satu ini” goda Jin Young yang lalu menowel
hidung Chae Ri. Buru-buru Chae Ri mengusap hidungnya dan berusaha mengabaikan
Jin Young. Jin Young adalah tetangganya yang terkenal badung. Harusnya dia
sudah lulus SMA sejak dua tahun lalu, tapi karena dia sering membolos jadi
harus tinggal kelas. Selama beberapa bulan terakhir Jin Young selalu berusaha
mendekati Chae Ri.
Tidak terima
karena diabaikan, ia akhirnya memulai pembicaraan duluan. “kudengar kau putus
dari Sun Woo gara-gara dia selingkuh ya? Kenapa tidak kau maafkan dan mulai
dari awal saja? Bukankah kalian saling mencintai? Kudengar dia melakukannya
hanya karena dia ingin menguji cintamu” serbu Jin Young hingga membuat Chae Ri
bingung menjawab yang mana dulu.
“aku tidak
apa-apa tanpanya. Lagipula aku tidak punya hak untuk menahannya”
Selama beberapa
detik suasana hening. Hanya terdengar suara angin dan langkah kaki mereka
berdua yang kini sudah berada di sekitar taman yang ada di kompleks perumahan
mereka. “tapi ku lihat kau sangat sedih” ujar Jin Young yang lagi-lagi angkat
bicara duluan.
Chae Ri
menghentikan langkahnya dan menunduk. Menatap lurus ke kudua kakinya dengan
tatapan sendu. “benarkah?”
Jin Young ikut
berhenti. ia lalu bergerak meraih Chae Ri ke dalam pelukannya. “kenapa kau
tidak jujur pada dirimu sendiri? Kau pasti terluka kan?”
Mata Chae Ri
rasanya memanas. Ingin rasanya dia melepaskan diri dari pelukan Jin Young. Tapi
entah kenapa dia hanya diam tak bergerak. “jangan seperti ini. Nanti aku bisa
menangis” lirihnya.
Jin Young justru
semakin mengeratkan pelukannya. “memangnya kenapa? Kalau mau menangis ya
menangis saja. Tenang, aku akan menutupimu, jadi tidak ada orang yang tahu
kalau kau sedang mennagis”
**
Jin Young POV
Perlahan Chae Ri
membalas pelukanku. Tubuhnya sedikit bergetar dan tangannya meremas baju bagian
belakang Jin Young. Bisa kurasakan perlahan kemejaku mulai dibasahi air mata
Chae Ri. Gadis itu menangis dalam diamnya.
Aku mengajaknya
duduk di bangku taman setelah dia mulai tenang. “bagaimana perasaanmu sekarang?
Lihat kan? tidak ada salahnya menangis”
Chae Ri hanya
menjawabku dengan gumaman sementara dia mengetuk-ngetukkan kedua ujung kakinya.
“kau pasti sangat mencintai Sun Woo ya?”
“memangnya
kenapa kalau aku mencintainya? Semua orang suatu hari pasti akan meninggalkan
satu sama lain. Termasuk dia pasti akan meninggalkanku seperti saat ini”
“bodoh. Kalau
kau terus berfikir seperti itu tentu kau akan ditinggalkan semua orang yang ada
di sisimu. Dia itu milikmu sampai kau melepaskannya begitu saja untuk yeoja
lain”
Chae Ri sama
sekali tidak bergeming. Aku menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan kembali
perkataanku. “kau bersikap seolah kau tidak berani bersikap memiliki Sun Woo,
tapi kau masih berusaha mengikatnya”
“aku tidak
mengikatnya” sanggahnya.
“oh ya? tapi
sadarkah kau pada warna syal rajutan buatanmu yang kau berikan pada Sun Woo?
Warna merah. Warna yang melambangkan sebuah ikatan”
Kini Chae Ri
tidak berkutik lagi. Dia tidak lagi berusaha menyanggah apa yang sudah
kukatakan. Saat itulah dia sadar kalau entah sejak kapan dia mulai benar-benar
mencintai Sun Woo.
**
sebenarnya aku takut kehilanganmu, Sun Woo.... -Han Chae Ri-
**
To be continuou.....
**







0 komentar:
Posting Komentar