Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Gagal Move On ~Malming~ #1


Halo!!! :D
Akina di sini. kali ini aku mau mencoba menulis cerita cinta antara Fira dan Danar. dua karakter favoritku :D ... ceritanya bukan berupa cerita bersambung sih, tapi Akina memang lagi pengen nulis cerpen-cerpen tentang mereka :D ....  semoga kalian bisa menikmati karya amatiran ini ya :D
Hawa dingin menyelimuti malam minggu kali ini. Mungkin karena sudah memasuki musim hujan jadi hawanya jadi ikut berubah. Tapi mau berubah atau tidak, hal itu tidak akan mengurunkan niat para pasangan untuk pacaran dengan sekedar jalan-jalan di taman. Bahkan yang jomblo seperti  Fira dan kedua sahabatnya juga tidak mau kalah dan ikut berkeliaran. Bagi mereka, jomblo bukan alasan untuk tidak jalan-jalan di malam minggu.
 
Malam itu Fira, Icha dan Isty pergi jalan-jalan ke taman kota untuk wisata kuliner, hal yang selalu mereka lakukan setiap malam minggu tiba. Biarpun mereka jomblo, tapi bagi mereka tidak ada salahnya pergi jalan-jalan di malam minggu. Lagipula pada dasarnya mereka memang suka wisata kuliner ditambah lagi memang makanan yang di jual di taman sudah terkenal enak.
“huoh! berapa kalipun gue makan ini rasa siomay di sini emang paling enak!” seru Fira girang. Di antara mereka bertiga memang Fira lah yang paling ekspresif jadi Icha dan Isty cuma senyum-senyum saja melihat tingkah Fira yang seperti itu –meski kadang juga bikin malu sih.
Di tengah keasyikan mereka menikmati siomay mereka, Isty tiba-tiba melihat jam tangannya dan baru sadar kalau mereka sudah terlalu malam untuk jam malam bagi anak SMP seperti mereka. “Fir, udah jam delapan nih, pulang yuk” ajak Isty.
“oke, gue sms kakak gue deh biar dia jemput gue” jawab Fira.
Fira mulai mengeluarkan ponselnya lalu mengetikkan beberapa kalimat. Di tengah aktifitasnya mengetikkan sms, Fira berhenti sejenak dan menatap kedua temannya itu yang dengan setia menungguinya. “Eng, kalian pulang duluan aja nggak apa kok. Lagian bentar lagi busnya nggak lewat. Kalau nggak sekarang, kalian nggak bisa pulang. Gue bisa nunggu sendirian kok” ujar Fira.
“nggak bisa Fir. Ini udah malem. Gue mah sama Icha searah, jadi ada temennya pas pulang. Tapi lo kan nggak ada” tukas Isty meyakinkan untuk kedua kalinya.
“percaya deh sama gue. Gue nggak apa-apa kok. Kalian pulang sekarang aja daripada malah nggak bisa pulang gara-gara nungguin gue. Iya kan, Cha?” Icha yang dimintai persetujuan ternyata justru sedang asik bermain HP. Melihat hal itu Fira dan Isty langsung memasang wajah datar beberapa saat sampai akhirnya Icha dengan santainya berdiri sambil memasukkan Hpnya kembali dalam saku.
“ya kalau si Fira nggak mau ditemenin nggak usah dipaksa, Is. Kalau gitu gue sama Isty pulang duluan ya Fir” pamit Icha yang kemudian tanpa ba bi bu langsung menarik Isty agar ikut pulang dengannya.
Icha terus menarik Isty menjauhi Fira menuju ke halte. Langkah Isty sedikit tersandung-sandung karena ia terus melihat ke belakang karena mengkhawatirkan Fira. “Lo kok tega banget sih sama si Fira? Ini udah malem tahu. Kasian dia nunggu sendirian. Biasanya aja dia nemenin kita kok malah kita nggak mau nemenin dia sih?” protes Isty sesampainya di halte.
“Soalnya gue tahu dia bakal ngomong kayak gitu. Dia bukan tipe orang yang mau dikasih perhatian kayak gitu”
“tapi kan....”
“tenang aja. Gue udah ada rencana kok. Gue udah manggil seseorang buat nemenin dia” jelas Icha lalu tersenyum ke arah Isty. Isty merasa sedikit ngeri dengan senyumannya Icha karena seperti menunjukkan pertanda kalau dia sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjai Fira.
“lo ngerencanain apa sih, Cha?” tanya Isty hati-hati.
Icha menggeleng pelan sambil tetap tersenyum licik. “bukan apa-apa. Cuma sesuatu yang bisa bikin kita tenang udah ninggalin dia tapi sekaligus bikin dia mati kutu. Hehe”
Isty mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti. Apa maksudnya membuat mereka tenang tapi malah bikin Fira mati kutu?
==========================================================
Di sisi lain dari taman tempat Fira dan teman-temannya tadi berwisata kuliner, sekumpulan cowok-cowok sedang asik mengobrol di atas motor mereka yang mereka parkir secara asal. Beberapa ada yang membawa pasangan masing-masing. Danar sebenarnya tidak ingin ikut dalam kelompok tersebut soalnya kalau dia ikut teman-temannya berkumpul seperti malam ini pasti cewek bernama Dike  akan mencoba menggodanya lagi.
Danar adalah cowok –yang menurut kebanyakan cewek- adalah yang paling ganteng di antara teman-temannya. Banyak cewek yang pengen jadi pacarnya, salah satunya ya si Dike ini. Padahal Danar juga sudah terkenal kalau playboy. Status Danar yang jomblo membuatnya semakin gencar mendekati Danar.
“sial, gue ke sini kan karena kata Icha si Fira bakal ke sini juga” gerutu Danar dalam hati. Dia kemudian mengingat kejadian tadi siang saat jam pulang sekolah. Saat pulang sekolah tadi dia dengan jelas mendengar kalau Fira dan kedua temannya itu akan wisata kuliner di sini makanya dia ikutan temennya kumpul buat ngeliat Fira. Tapi yang ada malah dia kejebak di sini dan malah jadi sasaran biro jodoh dadakan yang diadakan teman-temannya.
Pada dasarnya Danar memang tidak terlalu memperhatikan candaan teman-temannya dan kode-kode yang diberikan oleh Dike makanya dia jadi bosan dan ingin cepat pulang saja. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Danar mengerutkan dahi ketika tahu kalau yang mengirim sms adalah Icha.
Gw tahu lo d taman jg. Tmenin Fira gih. Dy lg nggu jmputan sndrian d dket tkang jual siomay
Raut wajah penuh kebosanan yang sedari tadi dipancarkan Danar langsung menghilang. Dia sama sekali tidak curiga dari mana Icha tahu kalau dia ada di taman kota juga. Dengan penuh semangat dia langsung memasukkan ponsel kembali ke dalam sakunya. “gue pergi dulu ya, mau jalan-jalan bentar” sela Danar di tengah obrolan.
“mau ke mana? Gue ikutan yah” ucap Dike sok manja. Dalam hati Danar sudah mau muntah dengan sifatnya Dike. Belum juga menjawab, Dike langsung menggamit lengan Danar dan mengajaknya jalan. “cie cie, suit suit, selamat jalan-jalan ya pasangan baru” celetuk Eky, cowok berkulit hitam itu merecoki Danar dan Dike yang disambut tawa oleh yang lain. Mendengar hal itu Danar langsung melototi Eky. Eky dan teman-teman cowok satu gengnya padahal sudah tahu siapa yang disukai Danar dari dulu tapi selalu saja mereka malah merecoki dan menjodohkannya dengan cewek lain.
Wajah sumringah yang sempat ditunjukkan Danar kembali hilang. Selama perjalanan dia terus cemberut karena kehadiran Dike. Dia bahkan sama sekali tidak mendenggar sepatah katapun yang diucapkan Dike karena moodnya benar-benar sedang buruk. Satu-satunya yang dipikirkan saat ini adalah bagaimana menyingkirkan cewek di dekatnya ini agar bisa berduaan dengan Fira kalau nanti sudah bertemu dengannya.
==========================================================
Untuk kesekian kalinya Fira menghela nafas. Kakaknya ternyata malam ini tidak bisa menjemputnya. Walhasil sekarang dia bingung mau pulang naik apa. Dia tidak berani naik kendaraan umum di malam hari –padahal memang nggak ada juga.dari tadi kerjaan Fira hanya melihat kendaraan yang lalu lalang dengan wajah datar. Dalam hati dia berharap ada seseorang yang bisa mengantarkannya pulang.
Seakan sebuah harapan yang turun dari langit, ia melihat seseorang yang mirip dengan orang yang dikenalnya sedang berhenti di depannya. Orang itu terengah-engah seperti sedang lari menghindari sesuatu. Karena merasa ada yang memperhatikan, akhirnya orang itu menoleh ke arah Fira. Mereka berdua saling menatap untuk beberapa saat.
Orang itu langsung merubah ekspresinya dan mengembangkan senyum ke arah Fira. “Yo! Ngapain lo di sini sendirian, Fir? Nungguin gue ya?” sapanya yang lalu duduk di sebelah Fira.
Akhirnya Fira pun sadar bahwa orang ini benar-benar adalah orang yang dikenalnya, dia adalah Danar. Dalam hati dia sudah loncat kegirangan karena akhirnya ada yang bisa mengantarnya pulang, tapi belum sempat dia menunjukkan wajah girangnya itu, seorang cewek datang menyusul Danar. “kok lari-lari sih, Nar? Gue capek tau ngejarnya” gerutu cewek itu lalu memasang wajah sok imut yang sedang cemberut.
Danar langsung melengos karena sudah lelah dan tidak mau meladeni Dike lagi. “eh, ngomong-ngomong loe temennya Danar ya? Kenalin, gue Dike” ujar Dike sok akrab sambil mengulurkan tangan ke Fira. Mau tidak mau dengan terpaksa akhirnya Fira menyambut uluran tangannya sambil memaksakan senyum.
“gue Fira. Gue--”
“dia cewek gue” sela Danar yang langsung mendapat pelototan Fira.
“emang kenapa sih Fir? Nggak apa-apa kali, biar semua orang tau kalau lo itu cewek gue. Emangnya lo nggak cemburu kalo gue di deketin cewek lain mulu?” ujar Danar sok mesra dengan merangkul Fira menggunakan sebelah tangannya sementara Fira dan Dike yang masih dalam pose berjabat tangan malah menatap Danar dalam keaadaan Freeze mode.
“gue emang cemburu, tapi jangan seenaknya ngaku-ngakuin gue dong” batin Fira.
Danar semakin mempererat rangkulannya membuat Fira semakin mendekat ke arahnya. “please” bisik Danar singkat.
Dike melepaskan jabatan tangannya dan berusaha menolak kata-kata Danar. “Nar, jangan bercanda gitu dong. Kasihan tau si Fira. Ntar kalau dia jadi nggak punya pacar gara-gara bercandaan lo gimana coba?”
“gu, gue emang pacarnya kok” jawab Fira ragu. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri. Meskipun dia mengatakannya karena dimintai tolong oleh Danar, tapi mengucapkan hal seperti itu adalah hal yang sulit dan memalukan. Bahkan jika benar Fira adalah pacar Danar, dia tetap akan kesulitan mengatakan hal seperti itu. Hal itulah alasan kenapa sekarang wajah Fira benar-benar memerah.
Dike yang tadinya memasang wajah sok manis langsung menunjukkan wajah aslinya dan cemberut. Dia pergi setelah menghentakkan kakinya keras-keras. “mendingan lo ati-ati sama Danar. Dia itu playboy banget tau” ucapnya sebelum pergi. Tanpa diperingatkan pun sebenarnya Fira sudah tahu bagaimana Danar.
“ye, yang ngedeketin itu kan lo, kenapa gue yang disalahin trus dituduh jadi playboy? Ck, emang susah ya jadi orang ganteng”
Fira langsung melepaskan diri dari rangkulan Danar setelah Danar bernarsis-narsis ria. “salah lo juga kenapa nggak bilang langsung kalau nggak suka. Dasar” Danar hanya menanggapinya dengan sebuah tawa. Fira tersenyum mendengar tawa renyah Danar tapi langsung berubah sok jaim begitu Danar berhenti.
“ngomong-ngomong gimana kalau dia ntar neror gue kayak mantan lo yang terakhir?”
“haha, tenang aja, dia nggak bakal ganggu lo kok”
Fira cuma bisa manyun mendengar jawaban santai dari Danar. Dia nggak ngerasain sih bagaimana ngerinya mantan-mantan Danar. Soalnya yang jadi sasaran kekejaman mereka itu si Fira. Fira kembali menoleh dan melihat kendaraan yang lalu lalang. Ia lupa kalau tadi dia mau minta tolong Danar buat nganterin dia pulang. “heh, Fir” panggil Danar sambil berbisik ke telinga Fira. Fira hanya menjawabnya dengan gumaman sambil sedikit memiringkan kepalanya tanpa menoleh. “kalau dia gangguin lo, bilang aja ke gue. I’ll be there as your guardian” bisik Danar lagi. Dan kata-kata itu efeknya seperti sebuah sihir bagi Fira. Rasanya suasana di sekitarnya tiba-tiba menjadi panas saking groginya. Baginya, kata-kata Danar barusan seperti mengatakan padanya kalau Danar akan selalu ada untuk melindunginya.
Tawa Danar kembali menghiasi pendengaran Fira. Dalam hati ia ingin sekali cepat pergi agar tidak dibuat grogi terus seperti ini. “Nar, daripada lo ketawa ketiwi terus mendingan lo anterin gue pulang deh” ucap Fira sok judes.
“oke deh. Angin malam kan emang nggak baik buat jomblo. Haha”
“ih, lo juga dalam posisi jomblo kali jadi nggak usah ngatain gue”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar